Lost and Found

Di kota tempat saya tinggal untuk sementara waktu ini, Lost and Found ini biasanya berupa kotak di sudut ruangan tertentu dimana jika orang menemukan barang bukan miliknya maka dimasukkan ke dalam kota tersebut, atau kemudian orang yang kehilangan barangnya akan mencari ke dalam kotak tersebut. Biasanya di perkantoran atau sekolah-sekolah lantas dikumpulkan ke bagian khusus Lost and Found.  Huebat, sebuah budaya yang tidak dikenal di Indonesia yang tercinta ini.

Biasanya sih di kota kelahiran tercinta saya kalo kita kehilangan barang yang nda pernah ketemu, sepertinya rasa budaya rasa memiliki yang sangat tinggi sudah hidup subur di masyarakat kita ini. Lost ya Lost, mana pernah Found. Entah disadari atau tidak, ternyata memiliki sesuatu yang bukan hak nya sudah hal yang jamak.

Dari hal sepele ini, sebenarnya apa layak kalo kita ini dikategorikan sebagai masyarakat yang beradab dan beriman kepada Allah Yang Esa ? Sepertinya kita ini sudah kehilangan esensi keberagamaan, orang beribadah hanya melakukannya sebagai ritual keseharian yang sudah kehilangan maknanya. Nda usah kebakaran jenggot lho ya. Mengevaluasi diri sendiri agar menjadi manusia yang lebih baik itu lebih dihargai oleh Sang Pencipta.

Yang menjadi pertanyaan itu adalah, apa yang diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah ? Apa yang kita pelajari sejauh ini ? Jangan-jangan kita memang terjebak pada ritual dan mempelajari filosofi agama tetapi melupakan tindakan nyata. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, bagaimana kita ini sebenarnya ?

3 Responses to Lost and Found

  1. donlenon says:

    betul! sangat setuju pak, mulai sesuatu dengan bertanya pada diri sendiri. sangat amat tidak mendidik jika kita bertanya pada rumput yang bergoyang?

  2. Affan says:

    Masya Allah begitu sesuai nya dengan syariat islam. di Indonesia byk yg islam ktp sih :D

  3. bambangedi says:

    Lost and found saya temukan juga di Arab Saudi. Dalam kajian fiqh ahkam, kita tidak boleh umumkan kehilangan barang jika kita merasa hilangnya di masjid, tapi kalau untuk mengumumkan penemuan boleh. Semangatnya, kita harus mengembalikan sesuatu yang bukan milik kita. Kembalikan amanah kepada yang berhak. Saya jadi ingat, dr. Wahyu, alumnus FK-UMY rela kembali ke Salatiga dari Solo hanya untuk membayar dua krupuk yang dia makan tapi lupa belum dihitung ketika dia membayar di kasir. Slilit Sang Kyai dari Bang EMHA juga mengingatkan akan harga sebuah kejujuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: