nDa’ Percaya

matahariJalan-jalan di kota tempat tinggal saya , mengantar anak yang liburan summer. Yah namanya anak mahasiswa, jalan-jalan yang paling murah dan bernilai edukasi tinggi adalah ke Library di downtown. Luar biasa fasilitas yang diberikan disini, serba gratis, serba nyaman. Library di kota saya punya 4 cabang selain library induk di downtown. Kita bisa meminjam buku dari lokasi manapun, bisa mengembalikan di lokasi manapun juga. Katalog library online bisa diakses dirumah, dan bisa request bahan untuk dikirim ke cabang library terdekat. Adakah biayanya ? nda ada sama sekali. Mulai dari buka keanggotaan sampai peminjaman material yang jumlahnya tidak dibatasi. Lha dari mana dananya ? ya dari pajak kota ini. Jadi masyarakat yang tinggal disini merasa pajak yang dibayarkan itu benar-benar dikembalikan kepada rakyat. nda percaya ?

Benar-benar sukar dipercaya, itu baru secuil contoh bagaimana sebuah negara mengelola pajak yang dibayarkan oleh rakyatnya. Sebenarnya, kemana ya pajak kita itu lari ? eh, saya nda nuduh lho cuma heran saja. Rasanya nda percaya kalo tidak ada apa-apa di sistem perpajakan ini. Saya bukan ahli pajak, bukan pula ahli keuangan, cuma rakyat kecil yang melebarkan mata kepala dan membuka mata hati lebar-lebar di perjalanan hidup ini.

Coba saja lihat, dari 200jt penduduk indonesia, yang bayar pajak berapa persen dan mereka bayar sekian rupiah. Belum lagi perusahaan menengah sampai perusahaan besar di Indonesia yang membayar pajak. Yah dengan nalar sederhana, mestinya pajak ini cukup besar untuk menutupi kegiatan negara ini tanpa harus defisit. Ini kalo nda ada kebocoran lho … . Apa sampeyan nda percaya kalo tidak ada korupsi yang cukup besar di sektor ini saja ?

nDak percaya dengan niat baik pengelola negara juga bisa dilihat di berita-berita. Pejabat yang ditangkap karena tertangkap basah di sogok, anggota dewan yang terhormat tertangkap dengan kasus yang mirip-mirip, sungguh membuat hati ini tersayat. Apalagi muncul komentar di media yang “melindungi” sejawatnya, padahal tuduhan sudah jelas. Benar-benar nda bisa percaya, fakta dibolak-balik dengan alasan yang lucu-lucu, modus sama dengan jaman bahuela dengan anggapan bahwa pembaca itu nda ngerti dan bodo juga nda tau logika.

Gimana rakyat mau percaya sama pemimpinnya ? nda percaya juga ketika pemerintah bilang bahwa bensin harus dinaikkan. walaupun mungkin memang apbn sudah nda cukup lagi untuk nalangin biaya crude oil yang memang meroket harganya.

Di forum diskusi underground banyak ide-ide menarik dari masyarakat yang sebenernya mau dengan suka rela dan riang gembira untuk membantu, yaah sekedar misalnya ngasih tambahan dana untuk pembelian pesawat tempur tni au. Mereka mengusulkan iuran 1000 rupiah perbulan selama setahun aja. Tapi, sekali lagi mereka nda percaya, apakah uangnya benar sampe ke tujuan semula ?

Atau ada ide lagi untuk mengelola negara ini dengan tangan besi. hiii tangan besi. tapi jangan takut dulu, coba lihat bagaimana negara tetangga kita singapur. Mereka memerintah dengan aturan yang super ketat, sampai dijuluki Fine City. Kota denda, apa-apa dilakukan jika melanggar aturan, langsung kena denda. Tapi siapa nda suka pergi ke singapur. Siapa nda suka kerja di singapur. Artinya mereka percaya bahwa aturan yang super ketat itu memang ditujukan untuk mengatur negara itu agar baik. Nah dengan indonesia yang latar belakang budaya luar biasa beragam, mestinya untuk mengejar ketertinggalan ya harus di jalankan dengan cara kaya gitu itu. nDa usah itu demo-demoan untuk demokrasi. Asal indonesia jadi maju makmur, orang-orang demo itu nda bakalan ada deh. Tapii ya itu tadi, balik lagi ke nda percaya ke pemerintahan sendiri. apa iya itu niatnya buat negara tercinta ini, bukan buat golongan mereka sendiri ? ya rakyat nda bisa disalahin to ? lha wong dalam sejarah, rakyat sudah banyak disakiti hatinya, bahkan sampai sekarang pun belum bisa dikatakan kalo rakyat itu percaya sama para pimpinannya.

Anda punya nda pecaya yang lain ? monggo tulis saja dibawah ini.

2 Responses to nDa’ Percaya

  1. Abram says:

    Win, emang nggak mudah untuk mencari jalan keluar masalah bangsa ini.
    Pertanyaanya, mau mulai dari mana? Dimulai dari membenahi sistem atau dimulai dari perbaikan moralitas sosial-individu-nya?

    Kadang sistemnya udah baik tapi moralitas sosialnya belum siap walhasil sistem yang sebagus apapun akan mandul juga. Atau sebaliknya, moralitas sosialnya udah baik tapi tidak didukung oleh sistem yang handal, yang kayak gini rentan dimanfaatkan/diakali oleh “tikus-tikus” negara. Lebih repot lagi, tanpa sistem yang handal, tikus-tikus ini dengan mudah menularkan penyakit mereka ke masyarakat, seperti sekarang ini.

    Saya berpikiran kalau perubahan itu itu harus dimuai dari kedua sisi, sistem dan moralitas sosial. Sekalipun yang terakhir dampaknya lebih besar walau memakan waktu lebih panjang. Apalagi ini merubah tatanan sebuah komunitas yang namanya negara.

    Disinilah butuh kesabaran kolektif bangsa, namun kesabaran tak akan bertahan lama tanpa adanya optimisme.

    Nah, ngomong-ngomong tentang optimisme, peran Winny dan juga teman-teman yang pernah mengenyam hidup dalam sebuah masyarakat yang “beradab” sangat dinantikan bangsa kita. Cerita-cerita Winny ini perlu dibagi ke masyarakat kita, bisa lewat bog, youtube atau apapun namanya, intinya kita perlu membuat masyarakat ‘melek’ seraya memompa optimisme mereka. Kalau optimisme ini hadir dalam masyarakat kita maka Insya Allah perubahan akan menjadi keniscayaan.

    Keep writing, Win!

  2. wsetyonugroho says:

    tidak mudah untuk mencari jalan keluar ? atau tidak punya keinginan kuat untuk melakukannya ? orang biang rumit, tapi kok aku pikir karena orang membuatnya rumit to ?

    Abram, jangan bilang gitu, bahwa kita pernah tinggal di lingkungan “beradab”, bisa disemprot orang nanti. Sing jelas kebetulan tinggal ditempat yang mempunyai beberapa kondisi yang lebih baik dari pada di Indonesia. Apa salahnya hal yang baik ditiru ? Kalau bab yang jelek-jelek nda usah di impor ke Indonesia, kita sudah punya cukup banyak kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: