Yang Terhormat

disabilitiesSiapakah orang yang dihormati di negara yang kita cintai ini ? Para pejabat dan para orang kaya adalah orangnya. No offense ya. Sekedar melihat kenyataan disekeliling kita. Bisakah kita temukan dengan mudah fasilitas yang diberikan kepada para saudara kita yang mempunyai keterbatasan ini ? Apakah kita sebagai makhluk yang mengaku beriman kepada Tuhan yang Maha Kuasa, yang Maha Pencipta Segala Makhluk, yang Maha Menyayangi, dengan mudahnya melupakan saudara kita ini ?

Jejak budaya bahwa kita tidak menghargai saudara kita yang mempunyai perbedaan kemampuan (banyak orang mengatakan disabilities person) sangat mudah dilihat. Coba kita lihat tempat parkir kendaraan (dimana saja di Indonesia), siapakah yang diberi lokasi yang paling dekat dan nyaman dengan akses gedung ? jawabannya adalah pejabat. Contohnya ? Di perguruan tinggi tempat mendidik orang agar mendapat pengajaran dengan tingkat tinggi pun, lokasi terdekat adalah untuk pejabat perguruan tinggi tersebut. Di instansi pelayanan lain pun demikian, yang menurut pandangan penulis artinya mereka (instansi tersebut) lebih menghormati dan melayani pejabatnya dari pada rakyatnya yang sebenarnya harus dilayani dan mendapat penghormatan lebih tinggi.

Sangat mengherankan. Apakah kita berpura-pura tidak tahu ? Ataukah kita bersembunyi dibalik kedok bahwa kondisi lingkungan kita tidak memungkinkan ? Menutup mata dan membungkus erat-erat mata hati kita agar tidak melihat dan tidak merasakan hal ini ? Coba saja, negara kita ini berlandaskan Pancasila yang sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara yang harusnya dekat dengan Sang Maha Pencipta. Tapi, kenyataannya menyayangi sesama manusia sungguh sulit dilakukan.

Penulis mulai tergugah dengan hal ini ketika kebetulan diberi kesempatan 2 kali tinggal di luar negeri. Allah memberi hidayah dari pemandangan yang nampak di mata. Dimana-mana terlihat tempat parkir kendaraan untuk disable person selalu ditempatkan di tempat paling nyaman. Akses dalam bangunan diberi kemudahan yang memang di desain khusus untuk keperluan tersebut. Lapangan pekerjaan memberikan akses penuh dengan tidak memandang keterbatasan manusia, asalkan bisa menunaikan tugasnya. Equality. Kesejajaran. Kita ini adalah manusia, yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalani hidup di alam semesta ini.

Orang-orang ini (di negeri tempat saya tinggal sekarang ini) sangat menghargai para disabilities person. Akses bagi mereka terbuka luas di segala sisi kehidupan. Walaupun kalo kita mendengar berita dalam negeri (indonesia) mereka dikenal mempunyai kebiasaan mengirim militer mereka untuk masuk ke negara orang dengan alasan mereka sendiri. Jadi kita jangan melihat kejelekan mereka saja, lihat kebaikannya. Kita juga harus melihat kelemahan kita, jangan membanggakan diri sendiri. Janganlah kuman diseberang lautan nampak, dan gajah dipelupuk mata tidak nampak.

Pernah ketika penulis aktif berlatih di Dojo Aikido di kota Provo, teman-teman Ninjitsu yang berlatih di tempat yang sama mempunyai siswa seorang yang harus menggunakan wheel chair, bahkan harus menggunakan yang bermotor. Beliau ini hanya cukup kuat untuk menggerakkan tangan untuk mengontrol wheel chair bermotor (listrik) ini. Sensei (ninjitsu) tetap semangat mengajar siswanya ini, dan di sisi yang lain si siswa juga berlatih dengan keras walaupun menggunakan wheel chair. Masyaallah betapa indahnya pemandangan ini.

Penulis pernah diberi kesempatan untuk dapat melatih (aikido), di bulan-bulan akhir sebelum kepergian ke negeri koboi, beberapa siswa yang mempunyai keterbatasan pendengaran. Mereka berbicara seperti biasa, mereka berkata-kata menggunakan sign language, dan mereka membaca bibir saya. Betapa membahagiakan waktu-waktu berlalu bersama mereka di dojo UGM. Kita berlatih bersama-sama, menjadi satu tanpa ada perbedaan. Sungguh, bahagia sekali. Menjadi cita-cita penulis untuk meneruskan dan mengembangkan program latihan untuk para penyandang keterbatasan. Semoga waktu dan kesempatan diberikan oleh Yang Maha Mengatur Hidup ini.

Jika anda menyadari kekurangan ini, marilah kita mulai dari diri sendiri untuk memperbaikinya. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik, walaupun itu dimulai dari hati. Buat anda yang mempunyai kekuasaan walau kecil, marilah kita berikan penghormatan kita kepada saudara kita dengan melakukan perubahan kecil di lingkungan anda.

Ya Allah ya Tuhan kami, semoga kami selalu di ingatkan untuk mencintai sesama. Amin.

2 Responses to Yang Terhormat

  1. donlenon says:

    amin pak…
    amin….

    semoga cepet pulang ya pak!

    regard,

    donlenon.blogspot.com

  2. azhar s a says:

    setuju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: