Belajar Beladiri: Mana yang Lebih Baik?

Tergelitik karena ada pertanyaan, bagus manakah beladiri A dengan beladiri B ? Dalam konteks beladiri menjadi, apakah beladiri A dapat mengalahkan beladiri B ? Atau manakah yang memiliki pukulan atau tendangan yang paling efektif ?

Bagus mana antara beladiri A dan beladiri B adalah pertanyaan yang akan selalu muncul. Namun prinsip saya adalah, belajar beladiri tidak ada bedanya dengan belajar mata pelajaran di SMU (misalnya). Tidak ada yang lebih bagus antara pelajaran Biologi dengan pelajaran Matematika. Adanya kecenderungan suka tidaknya kita terhadap matapelajaran tersebut. Di sekolah kita belajar banyak pelajaran, dengan tujuan kita mempunyai bekal hidup yang tertanam di otak kita lengkap dari pelajaran A sampai dengan pelajaran Z. Tujuanya, agar dapat lulus dari sekolah tersebut dan melanjutkan hidup dengan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Kebetulan saya ini nasibnya tidak beruntung, kondisi tidak memungkinkan, tidak adanya kesempatan waktu dan tempat untuk belajar suatu beladiri dalam waktu yang lama. Yah, saya yakin itu adalah takdir saya. Sempat belajar Taekwondo, Pencak Silat, Grappling Submission, dan Takeda Ryu yang kesemuanya hanya sekitar 2-3 tahun berlatih serta sedikit judo, dan saya tidak bangga karenanya (banyak berlatih macam-macam beladiri). Semua beladiri tersebut luarbiasa indahnya dan membentuk kepribadian saya. Takdir memberi jalan kepada saya dapat berlatih Aikido sejak akhir 2001 secara rutin sampai sekarang. Bagi saya itu adalah sebuah olah buat raga saya serta olah buat batin saya, dan memberi efek samping dapat membela diri sendiri minimal saya bisa melarikan diri dari mara bahaya dengan selamat, aman dan sentosa serta memberi kepekaan untuk menjauhi dari mara bahaya (silahkan baca “Belajar Beladiri dan Asuransi Kesehatan”).

Belajar beladiri pun bagi saya terasa seperti belajar di bangku sekolah. Belajar banyak hal agar dapat menyongsong tantangan masa depan dengan lebih percaya diri. Belajar sehingga dapat membentuk kepribadian manusia yang lebih baik. Belajar jadi orang baik, bukan pura-pura baik. Dan jangan sampai karena belajar beladiri, membuat orang takut terhadap diri kita. Itu namanya bukan belajar beladiri, tetapi belajar memperkosa hak orang lain berupa hak kenyamanan. Sudah kah kita membuat nyaman teman dan lingkungan seputar kita ? anda sendiri yang bisa mengetahui. anda sendiri yang harus selalu mawas diri.

7 Responses to Belajar Beladiri: Mana yang Lebih Baik?

  1. Yups
    bagiku beladiri itu asik, sementara ntar ada pemilihan atlit, sedikita da power untuk ikut… kok powernya sedikit ? iya ga tahu kenapa udah lama ga latihan pecuma banget ku ikut ga da masukan Ilmu iya toh tapi katanya ntar lagi juga jalan ya ku c maklum za soalnya guru2 ku kan dah berkeluarga ya no 1 lah keluarganya
    ju di pencak silat, mau ku lestariin supaya kiblat silat ga pindah dari indonesia dukung yah pencak silat indonesia supaya terus jaya soalnya warisan asli indonesia
    OK
    salam beladiri Indonesia

  2. pulsa bisnis says:

    wah banyak juga ya beladiriya :lol:

  3. wsetyonugroho says:

    sama aja sama anak sekolahan, pelajarannya banyak. bisa bikin pinter dan jadi profesor kalo memang belajar sungguh-sungguh.

  4. Hadi says:

    Salam mas winny, wah saya dapat info aikido yang “njawani” nih, kalo saya bc di majalah filosofinya agak susah dimengerti, tapi setelah bc2 disini baru “dong”. Iya sy jg spt panjenengan bljr mcm2 beladiri tapi ga pernah fokus. Trimakasih.

  5. wsetyonugroho says:

    sebenernya saya fokus dan keras berlatih kok. waktu sebentar itu karena saya pindah kota ato sang guru yang pindah kota.

  6. Bimo says:

    Setiap aliran beladiri diciptakan dengan filosofi berbeda. Ada yang sekedar membuat lawan tak berdaya dengan mengunci sehingga lawan tidak bisa bergerak, ada juga yang bertujuan membunuh lawan. Masing-masing gerekan punya efektifitas sendiri-sendiri.
    Beladiri sangat berhubungan dengan teknik perang, ilmu biologi (anatomi tubuh manusia), ilmu fisika, dan lain sebagainya.

    Bagaimana mungkin penciptanya tidak tahu titik-titik lemah pada tubuh manusia saat ia menciptakan suatu gerakan menyerang dan bertahan?
    Bagaimana mungkin penciptanya tidak tahu ilmu fisika jika ia tidak memahami bahwa benda yang memiliki kecepatan yang lebih tinggi selalu lebih dulu sampai ditujuan?
    Bagaimana mungkin penciptanya tidak tahu cara menghancurkan mental lawan kalau ia tidak tahu teknik perang?

    Belum lagi tenaga dalam yang bisa dilatih dengan ilmu pernapasan. Tapi hati-hati kebanyakan “ilmi tenaga dalam” di pencak silat adalah bersifat magic karena bisa didapat dengan cara di “transfer” bukan dengan berlatih.

    Seorang ahli beladiri harus mampu menggunakan semua sumber daya yang ada di dalam dirinya untuk mencapai tujuannya. Ia harus bisa menggunakan senjata apa yang tersedia disekitarnya.

    Ilmu beladiri itu luas sekali.

  7. Semua seni beladiri adalah sama….
    jadi mana yang lebih baik?
    yang lebih baik adalah diri kita, yaitu setelah memiliki kemampuan seni beladiri kita bisa memanfaatkannya untuk kebaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: