Resistensi Terhadap Suatu Perubahan

Tulisan ini sekedar pengamatan sekilas terhadap keengganan orang untuk melakukan perubahan yang ternyata tidak hanya terjadi pada generasi Orba (kata orang jaman reformasi) namun ternyata juga terjadi pada diri mereka sendiri tanpa disadari. Dalam hal ini keengganan beralih dari sistem operasi Windows yang sudah mereka dengar dan lihat sejak mereka dilahirkan menjadi pengguna open source software.

Jika dilihat dari sisi Microsoft, maka sebenarnya strategi yang memberikan “kesempatan” produknya untuk digunakan tanpa membeli (alias membajak) adalah langkah yang sangat jitu. Produk ini menjadi produk yang sangat di kenal dan sangat familiar di semua kalangan mulai dari anak-anak kecil yang baru mencoba komputer sampe para computer geek, walaupun disisi lain perusahaan ini kehilangan pendapatan dari dibajaknya perangkat lunak tersebut. Perangkat lunak ini menjadi sangat populer dan mempunyai pengguna yang sangat besar sehingga mempunyai pangsa pasar potensial yang besar pula dan oleh karena itu perusahaan pembuat perangkat lunak aplikasi berlomba-lomba untuk mencurahkan sumber dayanya untuk menciptakan produknya agar dapat berjalan di sistem operasi windows. Semakin banyak perangkat lunak yang diciptakan untuk berbagai macam kebutuhan, semakin banyak pula orang menggunakan produk ini (windows). Sebuah efek berantai yang sangat indah yang menciptakan ketergantungan orang pada sebuah produk. Apapun yang anda butuhkan maka dapat ditemukan solusinya didalam produk andalan ini. Dan terjebaklah orang secara tidak sadar terhadap produk ini yang dalam istilah ekonomi disebut lock-in. Sebuah kondisi yang sangat disukai oleh vendor, sehingga mau ngga mau, senang atau tidak senang, mahal atau murah akan membuat konsumen harus membeli produk tersebut.

Kondisi lock ini ini tidak menjadi masalah jika memang kita para pengguna mempunyai dana yang cukup untuk membeli lisensi resmi dari program tersebut. Ditambah lagi kondisi jika memang kita tidak sayang untuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit tersebut, yang sebenarnya bisa kita alokasikan untuk hal lain. Sebagai pengguna perseorangan barangkali akan menggunakan alasan bahwa sudah terbiasa menggunakannya dan program sesuai dengan kebutuhan.

Namun jika kita mau mengevaluasi sedikit tentang faktor kebiasaan ini, adalah sesuatu yang bisa dirubah. Walaupun perubahan tersebut akan membawa konsekuensi pada pembiasaan pada barang baru yang membutuhkan penyesuaian. Dan orang akan mengatakan ketidaktersediaan waktu untuk belajar hal baru. Apakah seberat itu ? Mestinya tidak. Perkembangan dunia TI sudah sedemikian pesatnya sehingga perkembangan perangkat lunak yang termasuk antar muka (user interface) sudah tidak sulit lagi untuk dimengerti oleh orang awam. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, yang memang perangkat lunak open source lebih banyak digunakan oleh para computer geek. Sekali lagi, antar muka yang digunakan sudah sangat maju dan mengalamii perubahan. Bisa dibandingkan dengan setelah menggunakan Handphone merk Nokia kemudian anda berubah ke merk SonnyEricsson ataupun sebaliknya (bukan bermaksud promo merek), tidak akan menemui kesulitan yang berarti untuk menggunakannya alat tersebut sekedar untuk menelfon ataupun mengirim sms.

Berdasar pengalaman saya dalam mengepalai sebuah departemen yang membawahi TI di sebuah institusi pendidikan, saya melihat bahwa kebutuhan terbesar adalah penggunaan word processor, presentasi, dan internet. Sebuah pemanfaatan teknologi yang sangat minimal mengingat kemampuan komputer yang sudah sedemikian cepat. Namun para pengguna tersebut tetap sulit untuk berubah menggunakan program non komersial dengan alasan “pokoknya” harus windows …begitu kata mereka. Yah saya tidak memaksa, saya hanya menghimbau apalagi memang kita membayar penggunaan software tersebut dan kebetulan kita mampu membelinya.

Namun ??? mengapa namun ? sebenarnya, apakah tidak sayang ? seandainya, dana tersebut dialihkan ke hal lain yang lebih bermanfaat ? memberi beasiswa bagi murid tidak mampu misalnya. Apakah kita perlu benar-benar tidak mau berubah ke sistem operasi yang open source dan gratis ? Perlu dipikirkan lagi, apakah karena kita mampu membelinya berarti bahwa kita harus membelinya ? pantaskah ? Mengingat secara umum negara kita ini masih termasuk negara berkembang (kalo tidak boleh saya katakan miskin). Saya sekedar ingin menggugah keperdulian kita terhadap kondisi lingkungan kita. Jangan sampai kita menterlantarkan saudara-saudara kita yang masih membutuhkan, dan justru memberikan uang kita untuk perusahaan asing yang jelas-jelas mengurangi devisa negara kita.

(tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang pihak manapun juga, hanya sekedar instropeksi diri penulis bahwa segala suatu tindakan di dunia ini tidak hanya dinilai secara duniawiyah semata namun harus dipertanggungjawabkan pula di hari akhir)

3 Responses to Resistensi Terhadap Suatu Perubahan

  1. ehs says:

    hmm.., tulisan bagus!
    sy sependapat…

  2. Heli says:

    Saya juga setuju nich Pak

  3. Dody says:

    Mungkin bagi kita yang pernah mengalami hidup di masa MSDOS atau kalopun mswindows yg masih ver 3.x, berpindah ke open source (dalam hal ini LINUX) tidak menjadi masalah. Lain halnya bagi yang mengenal komputer di masa win 95 ke atas, akan merasakan kesulitan utk pindah ke open source.
    Apalagi ada kehawatiran di dunia pendidikan ketika akan akan pindah ke software open source dalam pengajaran TI, takut kalo nanti di dunia kerja tidak terpakai. Selain itu dengan banyaknya distro akan membuat orang awam semakin takut utk pindah ke open source khususnya OS Linux.
    Ini saya alami sendiri di sekolah tempat saya mengajar. Buku ajar dari BSE (Buku Sekolah Elektronik) untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang disusun oleh “Kang Onno” dan teman2 nya menggunakan software open source. Ketika saya akan switch ke open source beberapa teman dan pimpinan sekolah menyampaikan kehawatirannya kalo nanti di dunia kerja tidak terpakai. Sperti kita ketahui orang Indonesia masih maniak MS baik untuk os maupun office suite, walopun itu hasil ngebajak.
    Yang saya herankan presiden kita bikin mou dengan om Bill untuk memerangi pembajakan software dgn pihak MS, bukannya mendorong penggunaan software2 open source. Saya pernah membaca sebuah artikel dalam Distro watch weekly, himbauan pemerintah Mexico kepada rakyatnya kira2 demikian (maaf saya lupa persisnya): Stop memakai windows bajakan, gunakanlah linux…
    Ups… maaf commentnya kepanjangan…
    Sekarang masih di Amrik ato sdh kembali ke Yogya? Saya tinggal di Sleman. Dan mengajar TIK di sebuah madrasah aliyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: