Orang dari Negeri Koboi Memang Beda

koboiMasih ingatkah ketika IBM memutuskan untuk menjual unit usaha desktop dan notebook nya ke Lenovo yang notabene adalah produsen dari Cina yang memproduksi komputer untuk merek lain (kebetulan memproduksi untuk IBM). Tindakan ini bukan sebuah langkah tanpa resiko, bahwa jauh-jauh hari suatu saat yang namanya komputer desktop dan notebook IBM bakalan lenyap dari muka bumi ini. Terbukti Lenovo memutuskan mempercepat penghentian penggunaan lambang IBM di produk mereka dari rencana 5 tahun menjadi cukup 3 tahun saja. Good bye IBM.

Langkah itu seperti langkah untuk amputasi, sebuah pilihan yang menyakitkan dengan menghilangkan anggota badan untuk menyelamatkan nyawa. Tapi orang-orang koboi ini memang beda. Strategi dan pengambilan keputusan memang sungguh berbeda. Seorang teman asli dari negeri koboi ini bilang, keputusan untuk menyerang tetangga jauh diharapkan bisa terbayar oleh limpahan emas hitam dari bumi tetangga tersebut. Namun perkiraan meleset, bukannya untung tetapi malah buntung. Kerugian terus mendera. Maka walaupun menggerogoti ekonomi diri sendiri, mereka tetap bersikeras untuk menambah jumlah prajurit nya bahkan mempunyai rencana untuk menyerang tetangga yang lain lagi. Sebuah tindakan karena harga diri yang sangat tinggi yang bisa berakibat fatal bagi diri sendiri. Tapi ya tetep dilakoni. Teman saya bilang, ya inilah kami.

Ada lagi kondisi unik di dalam negeri ini. Kebetulan saya tinggal di state yang terkenal oleh industri mobil. Tetapi industri ini dalam kondisi yang terus menurun karena penjualannya kalah dengan mobil keluaran Jepang. Mobil Jepang dikenal dengan mobil yang kecil dan efisien bahan bakarnya serta awet. Mobil orang koboi selalu besar atau bertenaga badak (dibaca:ber kapasistas mesin besar). Ditengah tingginya harga bahan bakar yang menunjukkan gejala yang tidak bisa turun ini, tentu saja orang punya kecenderungan untuk membeli mobil yang irit bahan bakar yang notabene merek Jepang. Mobil orang koboi ini kurang begitu laku, yang bekas pun harganya jauh lebih murah dibanding yang produk Jepang karena memang permintaannya lebih sedikit. Namun anehnya, mereka tetap memproduksi kendaraan dengan tenaga yang powerfull atau memproduksi Full Size SUV yang kapasitas mesinnya diatas 4000 cc. Walaupun dikemas dengan teknologi hybrid, tetap saja itu mobil besar.

Aneh bukan ? permintaan pasar untuk mobil dengan jenis itu tidak tinggi, tetapi tetap saja memproduksi jenis yang sama. Tidak terlihat usaha keras untuk melakukan perubahan yang fundamental pada filosofi dan desain mobil. Mereka bahkan banyak melakukan langkah efisiensi dengan pengurangan tenaga kerja yang disebabkan penurunan angka penjualan mobil.

Di sisi lain, salah satu produsen mobil Jepang justru meningkatkan produksinya karena permintaan yang terus meningkat. Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa mereka tetap bersikukuh dengan filosofi mobil mereka, sedangkan nyata-nyata kebutuhan pasar tidak demikian. Apakah ini yang namanya harga diri ? keangkuhan ? atau mereka punya strategi yang lain ? kita tunggu saja perkembangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: