Belajar dari Sejarah: Membeli F16 (lagi)

Sejarah membuktikan, bangsa yang tidak belajar dari sejarah maka bangsa itu tidak akan pernah bisa berkembang. Apakah Indonesia ku ini masuk kategori yang belajar dari sejarah sehingga tidak mengulang kesalahan masa lalu ?Membaca Detik tentang rencana Indonesia membeli F16 untuk menambah kekuatan pertahanan udara, cukup mencengangkan. Bukan karena memang kita membutuhkan senjata terbang itu, bukan pula karena jumlah orang miskin di Indonesia yang makin bertambah bahkan banyak yang meninggal karena kurang gizi (kalo tidak boleh disebut kelaparan), tetapi karena masih segar dalam ingatan kita bahwa vendor tersebut menolak untuk menjual kepada kita suku cadang yang diperlukan untuk membuat pesawat itu layak terbang dan bisa terbang dengan aman dan melakukan fungsinya dengan baik. Alasan yang digunakan pada waktu itu adalah karena kita melakukan pelanggaran HAM. Sedangkan pesawat yang lain di larang digunakan oleh penjualnya untuk digunakan untuk operasi di suatu daerah di Indonesia.

Tidak akan membahas pro kontra tentang HAM dan operasi militer tersebut, tetapi melihat tentang pertimbangan pembelian teknologi tersebut. Jika dianalogikan dengan membeli sebuat motor roda 2 yang di iklankan dengan kesan elegant di media masa, dan ketika akan menggunakannya si penjual melarang untuk digunakan berbelanja ke pasar tradisional karena bertentangan dengan image yang telah ditanamkan ke motor tersebut. Coba anda bayangkan, apakah anda mau membelinya ? Karena si penjual hanya membolehkan anda mengendarai motor tersebut untuk pergi ke kantor yang berada di kawasan elit atau untuk berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal nan mewah agar tetap mencerminkan cita rasa motor yang elit. Bukankah aneh kejadian tersebut ? Uang yang digunakan uang milik sendiri, lha kok dilarang-larang.

Kembali ke pesawat tersebut, karena sistem persenjataan tersebut sudah terlanjur dibeli maka tidak mempunyai pilihan kecuali untuk memarkirnya atau menuruti perintah si vendor untuk dapat membeli suku cadang. Kita sudah tergantung dengan vendor tersebut, membeli suku cadang OEM pun tidak ada, ngakalin suku cadang juga tidak bisa. Lantas bagaimana ? Kondisi yang parah ini sangat menganggu keluwesan pemerintah dalam menjalankan fungsinya sebagai pembela rakyatnya juga fungsi pemerintah yang seharusnya dapat membantu rakyatnya yang sedang di timpa musibah. Masih ingat ketika tsunami di Aceh, disusul gempa Nias, dan berikutnya lagi gempa di Jogja. Pergerakan bantuan yang harusnya dapat dilakukan dengan lancar melalui udara tidak dapat terpenuhi dengan maksimal karena secara “kebetulan” pesawat kargo yang kita miliki juga datang dari vendor yang sama dan kebetulan juga tidak diperbolehkan untuk dibeli suku cadangnya.

Dan ketika kabar akan dibelinya pesawat tersebut dari vendor yang sama lagi, sangat mencengangkan penulis. Sebuah aturan sederhana bahwa untuk mengurangi ketergantungan dari sebuah vendor, maka kita harus memiliki multi vendor. Sehingga kita tidak perlu mengalami kondisi tak bedaya lagi. Berpindah dari sebuah ketergantungan pada sebuah vendor memang mahal harganya, namun ada titik balik yang harus dipertimbangkan untuk dilakukan jika memang kerugian tersebut bisa ditutupi oleh keuntungan di masa mendatang. Lebih jauh lagi, sebagai konsumen sudah selayaknya kita memilih penjual yang bisa menawarkan produk yang terbaik yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan sekarang maupun yang akan datang serta memiliki layanan purna jual yang baik pula.

Semoga keputusan itu sudah dipertimbangkan dengan masak-masak. Saya bukan orang dalam, saya hanya rakyat biasa yang mendambakan bangsanya untuk tumbuh besar dan kuat. Semoga pula kita bisa belajar dari sejarah, dan tidak mengulangi kesalahan yang serupa. Sekedar doa dan harapan anak indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: