Perkembangan Teknologi Informasi di Tanah Air: Memandang Penjajahan di Jaman Modern

Jika kita selalu menengok kebelakang, jika kita selalu belajar dari kesalahan masa lalu, dan jika kita mau berjuang lebih keras lagi, kondisi sekarang ini tidak akan berlarut-larut. Kita dijajah 350 tahun, memalukan. Lebih memalukan lagi bahwa kita ini membiarkan lagi bangsa ini dijajah kembali oleh imperialisme modern.

Open Source vs Non Open Source
Perdebatan antara penggunaan Open Source dan Non Opern Source kadan membuat diri ini menangis. Sungguh jika kita melihat lebih jauh lagi dimensi perdebatan ini, kita dapat melihat makna didalamnya dengan lebih jelas. Terlepas dari alasan dari kedua belah pihak , sadarkah kita semua bahwa tidak ada bedanya membeli software OS Jendela dengan menyerahkan upeti dijaman penjajah Londo. Anda boleh saja tidak setuju, tapi pada kenyataanya kita ini memberikan uang kepada orang asing, dengan sukarela, menggunakan uang dari kekayaan bumi tercinta ini kepada perusahaan OS Jendela tersebut yang sama sekali tidak pernah perduli terhadap nasib bangsa ini. Kita ini dijajah namanya. Tidak ada bedanya dengan penjajahan Londo jaman pra 1945. Hanya saja modus operandinya yang lain.
Jika kita ingin merdeka dan menjadi bangsa yang besar, kita harus berjuang dengan keras. Memang berat, namun mana ada bangsa besar terbentuk tanpa perjuangan yang berat. Tidak menggunakan OS Jendela, memang berat karena harus berubah sistem dan membiasakan diri terhadap hal yang baru. Waktu terbuat untuk belajar, dana terbuang untuk membiasakan diri. Namun keuntungan akan didapat di akhir nanti.
Para pejuang kemerdekaan menyerahkan nyawa mereka demi bangsa ini untuk meraih kemerdekaan yang mereka tahu pasti belum tentu mereka rasakan. Cita-cita meraih kehidupan yang lebih baik menjadi semangat mereka untuk terus maju. Bagaimana dengan Kita ? Apakah sudah sepadan perjuangan yang kita lakukan untuk memajukan bangsa ini ? Apakah kita masih menggunakan alasan-alasan sebagai pembenaran terhadap kondisi ini ?

Telpon Tanpa Kabel
Di dunia per hape-an juta tidak kalah hebat laju penjajahan ekonomi di negara ini. Berapa pengguna handphone di Indonesia ? Sangat besar jumlahnya. Jika kita asumsikan 50 juta pengguna yang menghabiskan 50ribu tiap bulan, maka ada 2.5 Triliun rupiah. Masalahnya adalah kebanyakan perusahaan tersebut dimiliki oleh asing. Jika hanya 25% keuntungan saja yang masuk ke Indonesia, hanya ada 1T rupiah. 1,5 T rupiah sisanya lari keluar negeri. Belum lagi dengan kebiasaan berganti hape dan membeli hape setiap ada model baru muncul, yang notabene porsi perusahaan penghasil made in Indonesia masih sedikit sekali porsinya.
Bayangkan uang yang kita setor ke negara lain. Itu angka yang diasumsikan dengan angka yang rendah. Lagi-lagi kita ini memberikan upeti ke penjajah ekonomi. Senang atau tidak senang, memang begitulah kenyataannya. Negara-negara lemah sebenarnya terus dijajah.
Jika kita pengguna handphone, dan provider kita dimiliki negara lain opsi berpindah belum tentu cocok. Namun minimal kita tidak memboroskan pulsa kita untuk hal-hal yang tidak perlu. Yah, tulisan ini sekedar mencoba menggugah kesadaran. Semoga bangsa ini bisa melepaskan diri dari tangan-tangan penjajahan modern. Berat dan penuh tantangan, namun bukan berarti mustahil

About these ads

7 Responses to Perkembangan Teknologi Informasi di Tanah Air: Memandang Penjajahan di Jaman Modern

  1. ali says:

    Pak Winny, boleh tidak, tulisannya saya copy ke blog saya, makasih sebelumnya.

  2. wsetyonugroho says:

    monggo …silahkan. saya sudah email mas ali.

  3. ali says:

    siiiplaah, saya link blognya juga yah, hehehehe

  4. Anthony M. Rasat says:

    Indonesia ‘kan negara shortcut. Contohnya, kalau di US dicabut SIM bakal susah untuk dapat kedua kalinya, kalau di negeri ini bayar saja, beres. Daripada repot bikin infrastruktur fiber optic buat teve dan telepon, kenapa tidak lewat udara saja yang free. Urusan carut-marut frekwensi urusan belakangan. Daripada beli asli kenapa nggak bajakan. Daripada repot belajar pakai Linux mending bilang susah.

    Tapi, terus terang, saya sih suka shortcut bilang Linux susah tadi. Tidak perlu koar-koar banyak, cukup virus Brontok saja yang bekerja. Menggunakan Windows yang berat akibat adanya aplikasi antivirus menyebabkan demand komputer dengan high power jadi tinggi, harga pun ikut turun. Untuk saya, ini juga penting: Compiz tambah asyik di komputer dengan high power.

  5. wsetyonugroho says:

    mas Anthony, konteks disini adalah kesadaran masyarakat dan bangsa ini. Sudah pernah dijajah 350th dan sekarang dijajah masih mau saja. Cobalah kita lihat kepentingan yang lebih besar untuk bangsa ini. Kalau kita nda berpikiran maju, kapan bangsa ini maju ? Membangun bangsa ini harus dengan kerja sama seluruh elemen bangsa. Ayo bangun Indonesia !!! Mumpung suasana nya pas, mendekati 17 Agustus. Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia, yang seharusnya menjadi inspirasi buat kita semua untuk maju, membangun negeri ini menjadi bangsa besar.

  6. Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses ya.
    I Like Relationship.

  7. john says:

    ayo..teman-teman semua gunakan otak kita untuk memajukan dunia teknologi di negara tercinta ini……jangn mau kita di jajah terus-terusn…kita harus yakin bahwa kita mampu untuk melakukannya…cayyooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: