Berita hari ini cukup mengejutkan, perusahaan JiEm memutuskan untuk menutup 4 lokasi pabrik SUV dan Truck nya. Mereka mengatakan bahwa harga BBM yang terus naik membuat mereka menderita kerugian karena menurunnya angka penjualan. Mengapa mengejutkan?
BUkan karena perusahaan sebesar JiEm merevisi perusahaan mereka. Sungguh ini bukan sesuatu pertanda yang tidak dapat dilihat oleh para pengambil keputusan di industri otomotif, yaitu naiknya harga minyak dunia. Sebuah parameter yang selalu dikesampingkan oleh para pembuat otomotif di negeri cowboy ini, keterbatasan suplai minyak dan meningkatnya permintaan akan meningkatkan harga minyak dunia. Asumsi mereka terbawa oleh kebanggaan terhadap produk mereka, sehingga penilaian tidak lagi objektif. Bias penilaian karena over convidence, itu menurut saya.
Divisi kendaraan berbadan besar dan mesin berkapasitas besar turun penjualannya dengan drastis. Used Car mobil bermesin besar pun turun peminatnya. Filosofi kenikmatan berkendaraan senyaman di rumah yang dipindahkan ke dalam kenyamanan kedalam mobil, yang selama ini mengilhami desain mobil ini, ternyata kalah oleh kenyataan jaman.
Orang negeri matahari terbit lebih jeli melihat dunia ini. Visi mereka lebih jauh kedepan. Konsep mobil dengan mesin yang ekonomis sudah ditiru oleh semua pabrikan otomotif didunia. Dan ketika orang lain berusaha membuat mobil dengan konsep ekonomis tapi nyaman, mobil Jepang sudah mapan dengan konsep tersebut, dan sudah mempunyai nama yang mapan di mata konsumen.
Mari kita ikuti perkembangan selanjutnya, babak pertempuran pembuatan kendaraan di jaman BBM dengan harga mahal. Siapa bisa mengatur strategi dengan jitu untuk mensiasatinya ? Terobosan apa yang para engineer lakukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi bagi manusia dengan label ramah lingkungan dan ramah bagi dompet ?